Kios Dibobol, Kepala Pasar Sebut Rekayasa

oleh

BULUKUMBA,BI — Kepala Pasar Sentral Bulukumba, Baharuddin sebut pembobolan kios di pasar sentral, Senin,25 Desember kemarin direkayasa. Hal tersebut hanya ingin merusak nama baiknya yang tidak becus menjaga keamanan pasar.

Besarnya dugaan pembobolan rekayasa menurut Baharuddin karena hingga saat ini belum ada laporan dari pedagang, bahkan tidak ada bukti jika pembobolan yang terjadi di kios milik Dahir.

” Kalau dibobol seharusnya ada bukti, jangan mengada-ada, tidak ada juga laporan sama saya. Tidak benar itu, tidak maunyaji bayar koperasi, banyak begitu seperti penjual sayur dan sebagainya,” ujar Baharuddin.

Sebagai koordinator pasar, hingga saat ini pedagang tidak pernah melakukan koordinasi kepada dirinya jika ingin menyimpan dan memasukkan barang. Terkadang pedagang lewat pintu masuk lain yang seharusnya melalui pintu depan agar bisa terkontrol.

” Ada pagar di belakang sengaja di robohkan, supaga cepat masuk. Padahal kita gunalan satu pintu supaya bisa terkontrol,” jelasnya.

Sebelumnya, Aksi Pembobolan toko pasar dilaporkan Dahir pemilik kios pakaian Sentral Bulukumba, Senin subuh, 25 Desember malam kemarin. Pembobolan toko milik Dahir ini telah kedua kalinya terjadi dalam 2 bulan terakhir yang ditaksir kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Dahir mengaku sangat kesal, karena pembobolan kembali terjadi kepada tokonya. Dia menilai kinerja kepala pasar sebagai penanggungjawab tidak becus. Sehingga dia menuntut agar kepala pasar, Baharuddin di copot dari jabatanya.

” Tidak mauma membayar uang keamanan, karena sudah dua kalimi tokoku dibobol.¬† Mauja bayar kalau dicopotmi kepala pasar karena tidak becus,” jelasnya.

Dahir menceritakan jika pembobolan diduga terjadi Senin subuh,25 Desember  kemarin. Baru dia ketahui disaat tetangga kiosnya Indo Tuo menelfonya yang melihat pintu kios dalam keadaan mengangah, gembok rusak dan pakaian terbongkar.

Dari kejadian tersebut Dahir menaksir merugi Rp 5 juta, yang sebelumnnya pembobolan pada 19 November mengalami kerugian Rp 8 juta.

” Ada sarung, jaket celana dan baju, tidak tahu apa salahku, sudah dua kalima. Ini bukan kelalaian pedagang, tapi kepala pasar dan pengamanan yang tidak becus,” ujar Dahir.(rin)