oleh

Kampanyekan Harapan Baru, Idris Aman: Bulukumba Tidak Bisa Dipimpin Orang yang Biasa Saja

BULUKUMBA,BI– Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), 9 Desember 2020 mendatang, menjadi momentum untuk menentukan nasib Bulukumba lima tahun yang akan datang.

Memilih calon yang salah, sama saja dengan membiarkan Bulukumba terpuruk.

Hal tersebut diungkapkan politisi senior Bulukumba, Idris Aman saat melakukan kampaye dialogis mendampingi Andi Edy Manaf, di Punranga, Dusun Bua, Desa Paenre Lompoe, Sabtu, 24 Oktober 2020.

Bulukumba ini kaya katanya, mulai dari perkebunan, pertanian, pariwisata dan sebagainya. Untuknya itu tidak boleh di pimpin oleh orang yang biasa saja.

Harus orang yang tahu persis apa yang dibutuhkan Bulukumba dan masyarakatnya, serta mengetahui potensi apa yang harus dikembangkan disetiap wilayah masing-masing.

Apalagi di masa pandemi saat ini, Bulukumba harus dipimpin oleh orang yang cerdas, memiliki finansial yang kuat dan jaringan yang luas untuk mengembalikan perekonomian daerah dan masyarakat.

Dan sosok itu dia lihat ada pada Pasangan Calon (Paslon) nomor 4, yakni Andi Muchtar Ali Yusuf yang berpasangan dengan Andi Edy Manaf.

Keduanya, kata pria yang senang disapa Kak Riri itu memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Itu terbukti lewat keberhasil Andi Utta yang mampu mendirikan 12 perusahaan di dalam dan luar negeri, yang begitupun dengan Andi Edy Manaf yang telah 4 kali menjadi anggota DPRD, 2 kali kabupaten dan 2 kali pula terpilih di tingkat provinsi.

“Termasuk kekuatan finansial, keduanya telah cukup. Mereka tidak lagi mengejar kekayaan, sisa pengabdian. Bisa berguna buat daerah dan orang banyak, ingin memajukan Bulukumba, serta menyejahterakan rakyatnya,” kata Kak Riri.

Rugi masyarakat katanya, jika momentum Pilkada nanti tidak dimanfaatkan dengan baik. Karena hanya keduanyalah yang tahu persis apa yang dibutuhkan oleh Bulukumba.

“Bulukumba tidak bisa dipimpin orang yang biasa saja. Rugi jika tidak memilih mereka (Utta-Edy). Banyak yang harus diperbaiki di Bulukumba, termasuk penempatan pegawai yang bukan pada keahliannya,” terang Ketua Yayasan Stikes Panrita Husada itu.(**)